Menelisik Pergeseran Makna Mapasilaga Tedong di Tengah Arus Perjudian dan Transformasi Digital
141Pages
1Downloads

Menelisik Pergeseran Makna Mapasilaga Tedong di Tengah Arus Perjudian dan Transformasi Digital

Buku &quot;Menelisik Pergeseran Makna Ma&#39;pasilaga Tedong di Tengah Arus Perjudian dan Transformasi Digital&quot; karya Pdt. Okiwenty Kombong, M.Th. (2026) merupakan karya ilmiah populer yang membedah krisis identitas budaya di Toraja dengan sangat tajam dan sistematis.<br><br>Berikut adalah resensi mendalam yang dirancang untuk keperluan promosi dan tinjauan kritis:<br><br>1. Identitas Buku<br>• Judul: Menelisik Pergeseran Makna Ma&#39;pasilaga Tedong di Tengah Arus Perjudian dan Transformasi Digital <br>• Penulis: Pdt. Okiwenty Kombong, M.Th. <br>• Editor: Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si. <br>• Penerbit: PT. Dharma Leksana Media Group (2026) <br>• Tebal: 140 Halaman <br>• ISBN: (Sedang diajukan) <br><br>2. Premis Utama: Budaya di Persimpangan Jalan<br><br>Buku ini berangkat dari kegelisahan atas transformasi Ma&#39;pasilaga Tedong (adu kerbau). Awalnya, tradisi ini hanyalah hiburan pelengkap yang sederhana dalam ritus pemakaman Rambu Solo&#39;. Namun, memasuki tahun 2024–2026, praktik ini bergeser secara radikal menjadi arena perjudian masif, tontonan komersial, dan konten viral di media sosial. Penulis menegaskan bahwa buku ini bukan untuk menolak budaya, melainkan menolak distorsi yang merusak makna sakralnya.<br><br>3. Analisis Mendalam: Pergeseran Makna Ontologis<br><br>Penulis menggunakan pendekatan interdisipliner—teologi, antropologi, sosiologi, dan hukum—untuk membedah fenomena ini:<br>• Dari Sakral ke Profan: Kerbau yang semula adalah simbol ontologis (kendaraan arwah menuju Puya) kini mengalami desakralisasi menjadi komoditas ekonomi dan aset spekulatif.<br>• Kapitalisme Digital: Media sosial (TikTok &amp; Instagram) bertindak sebagai akselerator yang mengubah skala lokal menjadi global, meningkatkan nilai spekulatif kerbau petarung, dan menormalisasi perjudian di mata generasi muda.<br>• Ekonomi Judi: Data lapangan 2026 menunjukkan perputaran uang taruhan di satu lokasi bisa mencapai Rp500 juta hingga Rp1 miliar per hari.<br><br>4. Sorotan Utama: Sikap Tegas Gereja dan Hukum<br><br>Buku ini mendokumentasikan peristiwa bersejarah di Toraja, yaitu:<br>• Surat BPS Gereja Toraja (7 Maret 2026): Gereja secara resmi melarang praktik perjudian dalam adat dan menerapkan kebijakan &quot;Pelayanan Bersyarat&quot;. Jika sebuah keluarga bersikeras menyelenggarakan judi dalam ritualnya, Gereja tidak akan memberikan pelayanan ibadah sebagai bentuk menjaga integritas iman.<br>• Benturan Hukum: Penulis menganalisis UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Nasional Baru) untuk menegaskan bahwa dalih &quot;adat&quot; tidak dapat melegitimasi praktik perjudian yang secara pidana dilarang oleh negara.<br><br>5. Solusi Pastoral dan Strategi Masa Depan<br><br>Buku ini tidak hanya mengkritik, tetapi menawarkan jalan keluar yang konkret:<br>• Reinterpretasi Adat: Mengembalikan Ma&#39;pasilaga sebagai praktik non-taruhan yang bermartabat.<br>• Edukasi Generasi Muda: Memutus rantai normalisasi judi melalui ruang kreatif alternatif dan pendidikan kultural.<br>• Kolaborasi Lintas Sektor: Sinergi antara Tokoh Adat, Gereja, dan Aparat Negara untuk menegakkan aturan yang konsisten.<br><br>6. Kesimpulan &amp; Rekomendasi<br><br>&quot;Menelisik Pergeseran Makna Ma&#39;pasilaga Tedong&quot; adalah referensi wajib bagi akademisi, pelayan gereja, tokoh adat, dan pemerhati budaya. Buku ini berhasil membuktikan bahwa pelestarian budaya hanya bisa dilakukan jika disertai dengan integritas nilai.<br><br>Mengapa Anda Harus Membaca Buku Ini? Jika Anda peduli pada masa depan budaya Toraja yang &quot;Manda&quot; (kokoh dan bermartabat) di era digital, buku ini adalah kompas yang Anda butuhkan untuk memahami realitas lapangan secara jujur dan berani.<br><br>(Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si. – Chief Editor)<br><br>

Read Online Now

5/21/2026
Source: https://fliphtml5.com/syony/hcfn

Loading thumbnails...